Visit Here!!!!!!!

Translate Here!!!!!!!!!!!!!!

Rabu, 08 Februari 2012

Forgiven then Forgotten


Bayangkan Anda sedang menghadiri pesta yang amat meriah. Semua orang tampil dengan pakaian terbaik. Makanan yang dihidangkanpun tampak lezat dan mengundang selera. Saat Anda antre untuk mengambil makanan, tiba-tiba seseorang yang sangat Anda percaya berbisik di telinga Anda, “Hati-hati, banyak makanan tak halal di sini, bahkan ada beberapa yang beracun !“

Saya berani menjamin Anda akan mengurungkan niat mengambil makanan. Boleh jadi Anda pun langsung pulang ke rumah. Anda benar, hanya orang bodohlah yang mau
menyantap makanan tersebut. Kita tak mau makan sembarangan. Kita sangat peduli pada kesehatan kita.

Anehnya, kita sering – bahkan dengan sengaja – memasukkan “ makanan-makanan beracun “ ke dalam pikiran kita. Kita tak sadar bahwa inilah sumber penderitaan kita. Salah satu makanan yang paling berbahaya tersebut bernama : ketidakmauan kita untuk memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain !

Ketidakmauan memaafkan dan melupakan adalah penyakit berbahaya yang menggerogoti kebahagiaan kita. Kita sering menyimpan amarah. Kita marah karena dunia
berjalan tak sesuai dengan kemauan kita. Kita marah karena pasangan, anak, orang tua, atasan, bawahan, dan rekan kerja, tak melakukan apa yang kita inginkan.
Lebih parah lagi, kita memendam kemarahan ini berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.

Memang banyak sekali kejadian yang memancing emosi kita. Pengendara motor yang memaki kita, mobil yang menyalib dan hampir membuat kita celaka, orang yang
membobol ATM kita, politisi yang hanya memperjuangkan perutnya sendiri, adik yang sering minta bantuan tapi tak pernah mengucapkan terimakasih, pembantu yang
membohongi kita, maupun bos yang pelitnya luar biasa. Kita mungkin berpikir bahwa orang-orang tak tahu diri ini sudah sepantasnya kita benci. Tapi kita lupa bahwa
kebencian yang kita simpan hanyalah merugikan kita sendiri.

Penelitian menunjukkan ketidakrelaan memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain memiliki dampak hebat terhadap tubuh kita ; menciptakan ketegangan, mempengaruhi sirkulasi darah dan sistim kekebalan, meningkatkan tekanan jantung., otak dan setiap organ dalam tubuh kita. Kemarahan yang terpendam mengakibatkan berbagai penyakit seperti pusing, sakit punggung, leher, dan perut, depresi, kurang energi, cemas, tak bisa tidur, ketakutan, dan tak bahagia.

Baru-baru ini saya sempat berinteraksi dengan sekelompok mahasiswa yang mengeluhkan perasaan tertekan dan tak bahagia. Ternyata, kebanyakan dari mereka memendam berbagai kemarahan, baik kepada orang tua maupun orang-orang di sekitar mereka. Salah seorang mengaku telah 10 tahun memendam kebencian
kepada wanita yang menjadi istri kedua ayahnya. Si ayah yang dijuluki orang paling sholeh di kantornya tanpa diduga mempunyai “simpanan”. Wanita ini kemudian
dinikahinya, dan akhirnya meninggal karena stroke lima tahun lalu. Tapi kemarahan dan kebencian si anak hingga kini belum juga mereda.

Musuh kita sebenarnya bukanlah orang yang membenci kita tetapi orang yang kita benci. Ada cerita mengenai seorang lelaki bekas tapol di zaman orde baru yang
mengunjungi kawannya sesama eks tapol. Sambil mengobrol si kawan bertanya, “Apakah kamu sudah melupakan rezim orde baru ?” Jawabnya,”ya, sudah. Si kawan kemudian berkata, “saya belum. Saya masih sangat membenci mereka.” Lelaki itu tertawa kecil dan berkata,”Kalau begitu, mereka masih memenjara dirimu.”

Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu mengubah cara pandang kita. Sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan di luar. Karena itu jangan terlalu memusingkan perilaku orang lain. Sebaliknya, belajarlah memaafkan dan melupakan. Kunci memaafkan adalah memahami ketidaktahuan. Banyak orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Kalaupun mereka sengaja melakukannya. Itupun karena mereka sebenarnya tak tahu. Mereka tak tahu bahwa kejahatan bukanlah untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri. 

Orang yang suka memaki dan bersikap kasar sebenarnya tak menyadari bahwa mereka sedang menzalimi dirinya sendiri. Suatu ketika ia akan kena batunya. Inilah
konsekuensi logis dari hukum alam.

Mempraktikkan konsep memaafkan dan melupakan akan membuat hidup lebih ringan. Saya ingat, saat sedang duduk menunggu anak saya sekolah pada minggu lalu,
seorang ibu yang lewat menubrukkan tasnya yang cukup  berat ke kepala saya, tanpa permisi apalagi minta maaf. Orang-orang yang melihat kejadian itu menggeleng-gelengka n kepala sambil mencela kecerobohannya. Saya mencoba mempraktikkan konsep ini, dan langsung memaafkannya. Ibu itu kelihatannya sedang
kalut. Tak mungkin ia sengaja menabrak saya begitu saja.

Untuk mencapai kebahagiaan, berikanlah maaf kepada orang lain. Hentikan kebiasaan menyalahkan orang lain. Ingatlah kesempurnaan manusia justru terletak pada
ketidak sempurnaannya. Hanya Allahlah yang Maha Kudus dan Maha Sempurna. Saya menyukai apa yang dikemukakan Gerald G Jampolsky dalam bukunya Forgiveness, The greatest Healer of all. “Rela memaafkan dan melupakan adalah jalan terpendek menuju Tuhan”.