Visit Here!!!!!!!

Translate Here!!!!!!!!!!!!!!

Selasa, 21 Agustus 2012

Apakah Uang Telah Membunuh Semangat Olimpiade?

Headline

Olimpade kini bukan lagi semata-mata tentang olahraga, tapi juga korporasi para elit yang sangat kaya. Pola senada terus berulang setiap waktu. Negara tuan rumah dipaksa mengikuti aturan Komite Olimpiade Internasional.

Sejak seorang sejarawan asal Perancis, Baron Pierre de Coubertin menemukan Olimpiade Modern di akhir abad 19, International Olympic Committee (IOC) dijalankan oleh elit ekonomi dan sosial dunia.

Pada tahun 1896, Coubertin berkumpul dengan sesama bangsawan, pangeran dan para petinggi untuk melaksanakan petandingan. Tidak banyak yang berubah selama 116 tahun.

Saat ini, royalti masih dibentuk oleh orang-orang besar dari 105 anggota IOC, dengan Putri Eropa Nora Liechtenstein, Pangeran Frederik dari Denmark, Pangeran Albert II dari Monaco, Grand Duke dari Luxemburg dan Pangeran Orange semua bagian dari kelompok eksklusif.

Jauh dari eropa, sejumlah delegasi IOC juga datang dari garis keturunan kerajaan. Termasuk diantaranya, Pangeran Malaysia Tunku Imran, Putri UAE Haya al Hussein, Pangeran Jordan Feisal al Hussein dan Pangeran Nawaf Faisal Fahd Abdulaziz dari Arab Saudi.

"Tetapi ada juga anggota komite lainnya yang mungkin bukan dari kalangan bangsawan. Mereka masih berharap diperlakukan seperti mereka," kata profesor berkebangsaan Kanada, penulis 'Five Ring Circus: Myths and Realities of the Olympics'.

Menurut profesor Shaw hampir semua dari mereka (anggota komite IOC) super kaya. Tidak ada supir taksi atau pekerja pabrik dalam IOC. Permainannya, satu persen untuk satu persen, yang mencerminkan pertumbuhan kekuatan perusahaan dan kesenjangan pendapatan.

"Ini bukan lagi tentang olahraga, tapi sebuah tontonan," kata Shaw. "Upacara pembukaan dan penutupan adalah yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Dan harga bisa menyaksikannya sangat mahal. Satu persen yang mampu membeli, tapi mereka akan mendapatkan tiket gratis pula."

Pada Olimpiade musim panas mendatang di London yang akan dihelat mulai 27 Juli hingga 12 Agustus, IOC memiliki kekuatan privileges baik secara politik maupun finansial.

Apakah Olimpiade benar akan meningkatkan ekonomi London?

Secara khusus, telah didesain 'Games Lanes". Misal, dibuat jalan umum dengan mengorbankan rakyat Inggris yang mendanai ajang ini melalui kenaikan pajak.

Jalur zig-zag sepanjang jalan umum di London itu untuk 4 ribu BMW antar-jemput 40 ribu officials Olimpiade, pejabat birokrat, politisi dan sponsor hotel bintang lima dan berpembatas lounge VIP di arena. Adapun turis kaya dapat menikmati fasilitas tersebut jika membeli paket perjalanan seharga 20 ribu euro atau senilai Rp 230 juta.

Selain itu, keuntungan besar didapat IOC dari gelaran Olimpiade London 2012 kali ini akan dilindingi dari taxmen Inggris.

Panitia bersikeras menerapkan aturan pajak sementara pada negara-negara tuan rumah. Dan ketika Inggris menerima tawaran, ia harus setuju untuk pengecualian sementara dari Perusahaan Pajak Inggris dan Pajak Penghasilan Inggris bukan hanya untuk pegawai perusahaan.

Pengecualian yang diterapkan juga berlaku untuk perusahaan sponsor, meskipun McDonald melepaskan hak setelah petisi online yang pertama.

Dengan sebagian besar pendapatan yang diperoleh dari hak siar dan gencarnya program sponsor, yang memberikan 'Mitra olimpiade' termasuk McDonald, Coca Cola, Dow Chemicals, Visa dan Panasonic hak menggunakan logo Lima Lingkaran IOC dan pemasaran barang dagangan, IOC yang berbasis di Swiss diproyeksikan meraup pendapatan sebesar 27 milyar euro atau tak kurang dari Rp 310 triliun dari Olimipade London. Inggris diperkirakan akan kehilangan 600 juta euro atau hampir Rp 7 triliun pendapatan pajaknya.