Capoiera Adalah Bela Diri Dengan Memadukan Musik Serta Nyanyian


MuDAers, kamu bosan dengan olahraga yang begitu-begitu aja? Ingin berolahraga yang rada beda? Check this out! Capoeira!

Mungkin kalo MuDAers pertama kali dengar, pasti ada yang menganggap itu adalah seni bela diri keras yang hanya dilakukan oleh sedikit orang. Ternyata enggak juga kok!

Bahkan, faktanya orang-orang yang ikut capoeira awalnya cuma modal badan doang. Mereka enggak ngerti capoeira sama sekali. Nah, daripada penasaran, yuk kita intip lebih dalam!

Dari Brasil

Capoeira dikembangkan di Brasil oleh budak-budak Afrika yang dibawa orang Portugis ke Brasil. Mereka bekerja di Brasil sejak abad ke-15. Dulu, capoeira adalah bela diri yang digunakan para budak untuk mempertahankan diri.

Pertarungan mereka biasa terjadi di tempat lapang di hutan yang dalam bahasa Tupi-guarani (salah satu bahasa daerah di Brasil) berarti caá-puêra (beberapa ahli berpendapat kalau itu adalah asal nama capoeira).

Nah, kalo sejarah perkembangan capoeira di Indonesia lain lagi, nih. Menurut salah seorang capoeirista—pemain capoeir— dari Sinhá Bahia de Capoeira, capoeira masuk ke Indonesia sekitar 10 tahun lalu melalui anak-anak muda di Yogyakarta yang belajar dari capoeirista asing yang sedang berkunjung.

Kemudian, capoeira bisa berkembang dari Yogyakarta sampai ke kota-kota lain, seperti Jakarta dan sekitarnya.

Pemanasan

Sebelum latihan, para capoeirista wajib melakukan pemanasan. Oleh karena gerakan capoeira banyak yang menggunakan kaki dan pinggang, pemanasan biasanya dominan dilakukan di bagian tersebut.

Pemanasannya juga enggak jauh berbeda kok dengan pemanasan olahraga pada umumnya. Bedanya, di sini mereka menambahkan kayang sebagai gerakan perenggangan otot.

Capoeira biasanya dimainkan secara berkelompok. Setiap capoeirista berkumpul membentuk formasi lingkaran yang biasa disebut roda (baca: hoda). Mereka bernyanyi bersama sambil bertepuk tangan dan biasanya diiringi musik etnik.

Capoeira memiliki instrumen musik yang terdiri dari berimbau (lengkungan kayu mirip busur panah yang dipukul dengan sebuah kayu kecil untuk membunyikannya), dan atabaque (sejenis gendang khas Brasil).

Di bagian tengah roda terdapat dua pemain yang melakukan battle. Gerakan battle mereka sepintas terlihat seperti breakdance.

Capoeira memiliki jenis gerakan yang beragam. Beberapa contoh gerakan dalam capoeira adalah ginga dan esquiva. Ginga itu semacam gerakan kuda-kuda yang dinamis dan berkelanjutan dengan menggerakkan kaki dan tangan yang berlawanan secara bergantian ke arah depan dan belakang, sedangkan esquiva adalah gerakan menghindar.

Bagi pemula, gerakan capoeira awalnya memang sulit untuk dilakukan. Akan tetapi, jangan khawatir, hal itu disebabkan karena tubuh kita masih belum biasa untuk melakukan gerakan tersebut.

Dengan latihan yang disiplin, ditambah bimbingan para mestre yang sudah ahli, kita pasti akan bisa melakukan variasi gerakan akrobatiknya secara bertahap.

Menurut beberapa capoeirista, mereka juga ngerasain hal yang sama kok waktu masih menjadi pemula. So, jangan takut untuk mencoba ya….

Penghormatan

Oh ya, ada ritual unik yang biasanya dilakukan oleh para capoeirista pada setiap akhir latihan, yaitu salve. Salve artinya adalah salut. Jadi, salve adalah bentuk penghormatan para capoeirista kepada mestre, yang diucapkan menggunakan kata-kata berbahasa Portugis dengan suara lantang.

Bela diri ini punya banyak manfaat. Jika ditinjau dari segi fisik, selain bikin sehat, capoeira dapat membuat koordinasi gerak tubuh kita jadi lebih baik.

Gerakan-gerakan capoeira juga membuat tubuh kita jadi lentur, dan menjaga stamina tubuh kita. Enggak cuma itu, kita bisa belajar tentang kebudayaan Brasil, seperti musik tradisionalnya.

Perguruan capoeira

Di Jakarta, tepatnya di daerah Senayan, ada sebuah perguruan capoeira bernama Sinhá Bahia de Capoeira. Di sini, para anggotanya berasal dari berbagai kalangan lho, mulai dari anak-anak, remaja, sampai dewasa. Enggak hanya cowok, cewek juga bisa ikutan seni bela diri ini kok.

Alasan mereka tertarik dengan capoeira juga beragam. ”Gue tertarik capoeira karena gerakannya bebas, menuntut kebebasan tubuh kita,” kata Rizky (23), salah seorang anggota Sinhá Bahia de Capoeira.

Lain lagi menurut Fely (24), ”Kalo gue tertarik sama capoeira karena gerakannya yang indah, dan gerakan antarpemain itu seperti punya dialog.”

Biaya untuk mengikuti perguruan ini juga relatif kok. Setiap bulan, anggota cukup membayar iuran sebesar Rp 150.000 untuk empat kali latihan. Kalo dihitung-hitung, uang yang kita keluarkan enggak seberapa lho jika dibandingkan dengan manfaat yang didapat.

Oleh karena latihan capoeira selalu dilakukan bersama-sama, di sini para anggotanya memiliki rasa kekeluargaan yang erat. ”Kita serasa punya keluarga baru di sini,” ujar Fely.

Selain itu, perguruan ini juga bekerja sama dengan Yayasan Kampus Diakonia Modern untuk membuka kelas gratis bagi mantan anak-anak jalanan dari yayasan tersebut.

Hmm, gimana MuDAers? Olahraga ini emang patut dicoba kan?

Postingan populer dari blog ini

Nama Panggilan Untuk Pacar Unik Tapi Mesra

Sebuah Kisah Nyata Tentang Perjuangan CINTA