Visit Here!!!!!!!

Translate Here!!!!!!!!!!!!!!

Minggu, 11 Desember 2011

Mudik Natal (bukan) Sebuah Keharusan

Merayakan Natal tanpa kehadiran orang terdekat, yang tinggal jauh di kampung halaman, rasanya kurang afdol. Ada kerinduan tersendiri yang tak terelakkan. Mudik menjadi solusi. Tapi apakah itu sebuah keharusan?



Jika para perantau memilih merayakan Natal di tanah kelahiran, jauh-jauh hari perlu persiapan dan perencanaan. Mulai dari estimasi biaya dan lama cuti yang harus diambil. Tentu tidak murah, padahal waktu cuti terbatas. Lalu, dari semua tantangan itu, mengapa perantau tetap memilih merayakan Natal di kampung halaman? “Karena pada hari-hari keagamaan, hampir semua keluarga sepakat untuk kumpul. Nah, kalau dia berada di luar kota, maka terpikirkan oleh dia untuk ikut bergembira dalam satu ikatan keluarga. Hampir semua agama begitu, tak terkecuali ketika merayakan Natal,” jelas Singgih Wibowo Santoso, SU (60), dosen Jurusan Psikologi, Universitas Gadjah Mada.

Selain ingin bertemu orangtua, kebiasaan Natal yang tidak dijumpai di perantauan kerap menimbulkan kerinduan. Bagi sebagian orang Batak, Manado, Ambon, Papua, dan daerah lain, merayakan Natal di kampung adalah momen yang unik. Tidak pantas dilewatkan begitu saja. “Ya, tentunya mereka membayangkan kumpul dengan keluarga dalam suasana gembira, suasana bahagia, lalu pergi ke gereja bersama-sama. Ini merupakan hal yang menyenangkan,” ujar jemaat GKJ Minomartani, Yogyakarta.

Karena Urbanisasi
Ada beberapa aspek yang mencakup nilai-nilai budaya yang terkait dengan mudik Natal. Antara lain, nilai hubungan manusia dengan waktu. Mudik Natal biasanya dimanfaatkan untuk membangun kebersamaan. Ada juga hubungan manusia dengan sesama, sehingga melalui mudik saat Natal, seseorang bisa merajut hubungan sosial dalam keluarga.
Lainnya, nilai hubungan manusia dengan pekerjaan. Mudik Natal dianggap tidak mengganggu efektivitas kerja karena dianggap lebih berharga daripada uang. Serta, nilai hubungan manusia dengan hakikat hidup, mudik dapat membangun iman dan mempererat keintiman dengan Tuhan.

Haryadi Baskoro, S.Sos.,MA.,M.Hum., dosen Sosiologi STT Tawangmangu, tidak tahu pasti sejak kapan mudik Natal menjadi kebiasaan umat kristiani. “Perlu riset khusus yang luas.” Ia juga menambahkan, kecenderungan mudik tumbuh sejalan dengan kecenderungan tumbuhnya urbanisasi.

Manfaat Mudik
Sedikitnya, ada lima manfaat saat melakukan mudik Natal. Pertama, membangun kebersamaan hidup berkeluarga. Dua, memulihkan hubungan-hubungan yang retak. Contohnya : antara orangtua dan anak. Tiga, membangun kebersamaan umat Nasrani di daerah. Empat, menjadi kesempatan bagi para perantau untuk berbagi berkat. Kelima, memperkuat keberadaan kekristenan di daerah, khususnya kantong-kantong kristen. Perpaduan budaya di perantauan adalah salah satu penyebab lunturnya budaya daerah. Saat mudik, hal ini dapat diminimalisasi, dengan cara beradaptasi kembali dengan budaya setempat.
“Ada beberapa penyebab seseorang selalu memilih pulang ke rumah saat Natal, di antaranya karena kelekatan dengan kehidupan sosial di daerah asal masih kuat. Lalu cinta daerah asal yang masih tinggi. Jika daerah asal merupakan daerah kristiani, maka akan dirasakan sebagai pusat atau “ibu” yang tidak boleh dilupakan,” papar Haryadi.
Namun, tentu saja tidak tiap tahun para perantau bisa mudik untuk merayakan Natal di kampung. Banyak faktor yang diperhatikan, terutama besaran biaya perjalanan. Bila seorang perantau di Pulau Jawa berasal dari Tapanuli atau Manado melakukan mudik seorang diri, tentu tidak sebesar ongkos yang diperlukan ketimbang bersama keluarga.

Visi Mudik Natal
Karena mudik Natal bukan suatu kegiatan rohani yang sifatnya keharusan, masalah dana dan waktu perlu dipertimbangkan matang-matang. Ini untuk menghindari kesan terlalu memaksakan diri. Justru yang harus menjadi tujuan untuk melakukan mudik adalah visi pelayanan. “Setiap anak Tuhan harus memiliki visi yang jelas atas apa yang dilakukan. Mudik Natal harus dilakukan dengan visi pelayanan,” tandas dosen yang juga mengajar di AKINDO dan STIKES Wira Husada, Yogyakarta.
Pendapat ini diamini Pdt. Rudy Imanuel Ririhena (49). Menurutnya, kalau pulang kampung untuk merayakan Natal, itu bagus-bagus saja, karena di situ ada kegembiraan bersama. Tentunya ada tradisi Natal di kampung yang biasa dilaksanakan bersama.

Tapi, yang terpenting dan perlu diingat apakah kita pulang hanya sekadar merayakan Natal atau ada esensi lain daripada itu. “Bagi umat Nasrani, saat merayakan Natal adalah saat kita berjumpa dengan bayi Natal. Kalau itu yang menjadi konsepnya, di mana saja kita bisa merayakan Natal, itu yang harus menjadi perhatian kita. Kalau fokusnya demikian, merayakan Natal dan pulang kampung itu tidak wajib hukumnya,” ujar pendeta kelahiran Wassu, Ambon.
Pengalaman ketika Pdt. Rudy melayani, hampir lima puluh persen jemaat yang dipimpinnya tidak merayakan Natal di gerejanya. Hal ini menunjukkan bahwa ada jemaat yang mudik atau memiliki kegiatan saat Natal.

Persekutuan Tubuh Kristus
Perjalanan mudik Natal lebih baik dilakukan dengan niat dan damai sejahtera. Terlebih momen itu untuk menyambut sang Juruselamat. Jika tidak memiliki kesempatan untuk merayakan Natal di kampung halaman, jangan berkecil hati. “Kita ini kan satu tubuh dalam Kristus dan kita adalah anggota tubuh-Nya dan terjadi persekutuan di dalam-Nya. Jadi walaupun kita saling berjauhan, kita merasakan ada kedekatan. Ini merupakan persekutuan dengan tubuh Kristus,” ujar Ketua II Sinode GPIB yang membidangi Pendidikan dan Pembinaan Peranan Keluarga.

Buah damai sejahtera ketika merayakan Natal di kampung halaman merupakan hal utama. Haryadi Baskoro menekankan kembali visi umat Nasrani dalam melakukan mudik Natal yaitu visi untuk melayani Tuhan dan sesama. “Dengan visi itu, maka kedatangan kita ke kampung dapat berempati, mendukung, dan mengasihi mereka.”

Dalam Kristus, meski kita berjauhan saat merayakan Natal, kita bisa merasa dekat. Namun, ketika para perantau memutuskan untuk mudik, tidak jadi masalah. Semua kembali kepada yang melakukannya. Yang terpenting dana cukup, tidak merepotkan keluarga yang didatangi, dan ada motivasi pelayanan di dalamnya.
Sumber: Majalah Bahana, Desember 2010