Mau Kemana Setelah Tamat...?

Ujian Nasional (UN) untuk siswa SMA sederajat telah usai.

Dengan perasaan harap-harp cemas, para siswa menanti pengumuman, kelak lulus UN atau tidak. Lalu, setelah tamat, mau ke mana? Ini pertanyaan yang sangat mendasar.

Bagi siswa SMA (Sekolah Menengah Atas), mau tidak mau haruslah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, apakah mengambil S1 (stratas satu) atau D1 (diploma satu), D2, atau D3. Mengapa tidak, SMA adalah “sekolah gantung” yang semua orangtua dan siswa sejatinya menyadari, di SMA ilmu pengetahuan yang diterima serba gantung. Artinya keterampilan untuk dibawa ke dunia kerja masih tidak cukup.

Sejak awal, para siswa dan orangtua, kalau mengharapkan anaknya setamat sekolah dapat kerja, sebaiknya memilih sekolah kejuruan. Di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan): apakah otomotif, elektronik, ekonomi dan lainnya, siswa memang dididik untuk terampil di bidangnya.

Justru itu siswa-siswi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) harus punya motivasi lebih dibanding siswa SMA, terutama di bidang keterampilan. Siswa SMK – apa pun jurusannya – sejak awal sekolah telah dipersiapkan untuk bekerja selepas sekolah. Sejatinya sekolah-sekolah kejuruan memang untuk tenaga siap pakai. Begitu tamat sekolah, diharapkan langsung dapat bekerja.


Tamatan SMK jangan sampai tidak siap pakai. Apa-apa yang telah diajarkan para guru jika diterima dengan senang hati oleh para siswa, niscaya akan mengantarkannya kepada tenaga terampil. Sebab, guru yang baik pastilah pula memberikan yang terbaik buat siswa-siswinya. Tak ada kebanggaan seorang guru, selain melihat siswa-siswinya lebih berhasil dari dirinya.

Saat ini ke depan sangat dibutuhkan tenaga ahli di bidang audiovisual. Di negara-negara yang pendidikannya sudah baik, seperti Malaysia, Jepang dan lainnya, yang merakit handphone adalah siswa-siswi SMK. Bagaimana dengan SMK-SMK kita, terutama yang ada di Sumut? Jawabnya kita serahkan kepada para pemegang kebijakan.

Negara kita pun – kalau mau maju – harus seperti itu, dibangun dengan model piramida, makin ke atas makin mengerucut. Artinya, tenaga-tenaga terampil yang dipersiapkan untuk bekerja harus lebih banyak daripada tenaga manejerial. Untuk itu kita berharap hari ini ke depan, SMK-SMK dan pendidikan dengan program lifeskill (kecakapan hidup) lebih diperbanyak dan di perluas guna menanggulangi pengangguran terdidik.

Setelah kerja tiga atau lima tahun bisa melanjut lagi ke program S1. Kita juga berharap hari ini ke depan yang lebih di perbanyak dan diperluas adalah sarjana-sarjana eksakta guna menyahuti masa depan yang kian akrab dengan teknologi. Kalau tidak, kita hanya akan jadi bangsa konsumen, bukan produsen.

Diingatkan, setiap gelar yang kita sandang haruslah melalui sekolah atau pendidikan. Gelar menunjukkan keterampilan orangnya.

Membuka Internet

Saran kita, siswa-siswi SMK, agar setiap dua jam sehari membuka internet. Hampir semua ada di internet, yang baik dan yang buruk. Seperti mata uang, jika dibelanjakan atau disumbangkan ke jalan yang baik, maka gambarnya adalah malaikat. Tetapi jika dibelanjakan atau dihambur-haburkan untuk tujuan hedonisme, maka gambarnya adalah syetan.

Jadi, semuanya terpulang pada manusianya, mau dibawa ke mana uang dan internet (teknologi), ke jalan malaikat atau syetan, semuanya terpulang pada kita.

Di Yogyakarta ada SMK yang bekerja sama dengan Toyota. Maka SMK tersebut mempersiapkan SDM-nya jadi ahli mengecat dan lainnya, misalnya. Begitu tamat SMK ditampung Toyota untuk mengecat dan lainnya.

Itu tadi khusus untuk siswa SMK. Lalu bagaimana pula dengan siswa SMA dan MA juga SMK yang ingin kuliah? Siswa Kelas III SMA sederajat yang berkeinginan kuliah di PTN, pertama harus mempersiapkan diri agar jadi yang terbaik. Ranking I, II dan III di sekolah, berkemungkinan dapat menempuh Jalur PMP (Pengembangan Minat dan Prestasi), masuk PTN tanpa testing. Cuma, lewat PMP – yang memang dikhususkan bagi siswa-siswi unggulan – dibarengi dengan ketentuan unggul pula dalam bidang akademis. Selain harus lulus tes psikologi, nilai akumulatif alias IP (Indeks Prestasi) semester I, tidak boleh di bawah 2,7. Jika tidak mencapai skor dimaksud, maka mahasiswa atau mahasiswi tersebut harus mengikhlaskan diri DO (drop out).

Ikut SMPTN

Andai siswa-siswi SMA sederajat tak berhasil menjadi yang terbaik: I, II dan III di sekolahnya, dapat mengikuti SPMB sekarang berganti nama UMB-SPMB (Ujian Masuk Bersama Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) atau SMPTN (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sebenarnya UMB-SPMB dan SMPTN juga menjaring orang-orang yang berkemampuan akademik di atas rata-rata.

Mengapa tidak, bangku yang tersedia untuk itu sangat terbatas. Untuk USU, misalnya, bangku yang tersedia lebih kurang 3000 saja. Yang 3000 bangku itu pun harus berbagi pula dengan PMP, Ekstensi, dan JK (Jalur Khusus).

Andai siswa-siswi SMA sederajat yang mengikuti UMB-SPMB dan SMPTN tak berhasil lulus, masih ada kesempatan untuk ke PTN. Ada dua jalan yang dapat ditempuh. Pertama, kuliah dulu di Program DIII (Diploma Tiga). Setelah lulus – boleh bekerja maupun tidak – lalu mengikuti S1 di USU (PTN). Inilah yang disebut Ekstensi.

Jalan berikutnya adalah Jalur Khusus (JK). Cuma, JK ini dibuntuti dengan sumbangan pembangunan pendidikan yang membuat orang-orang di strata bawah tercengang-cengang. Konon kabarnya di ITB Departeman Teknik Fisika disediakan 10 bangku dengan biaya pendidikan masing-masing 25.000 dolar AS. Jika satu dolar AS Rp 10 ribu saja, maka satu bangku di departeman dimaksud Rp 250 juta.

Hal yang sama juga terjadi di IPB, UI, dan UGM. Bahkan ada universitas yang melakukan penjaringan calon mahasiswa baru swadana jauh hari sebelum UAN (Ujian Akhir Nasional ketika itu) – sekarang UN (Ujian Nasional) – dilaksanakan. Materi penjaringan dengan tes tertulis dan formulir kesediaan menyumbang sejumlah uang sesuai kemampuan.

Sumbangan untuk jurusan “basah” seperti kedokteran bisa sampai Rp 100 juta atau lebih. Memang ada sejumlah calon mahasiswa baru swadana ini yang diterima tidak memberikan sumbangan alias nol rupiah tetapi mereka masih harus berurusan dengan birokrasi kampus untuk diteliti status sosialnya.

Seyogianya institusi pendidikan negeri dari SD sampai PT dibentuk untuk menampung anak-anak Indonesia yang kurang mampu secara finansial tetapi berkemampuan akademik. Dengan dibukanya JK, jelas mengurangi kesempatan anak-anak yang kurang mampu secara finansial. Mengapa tidak, jika misalnya di USU disediakan 3000 bangku, 500 sudah diambil ekstensi, 500 untuk PMP dan 500 lagi Jalur Khusus, maka jalur UMB-SPMB dan SMPTN tinggal 1500 bangku saja.

Bagi anak-anak yang kurang mampu secara finansial, tentunya harus mempunyai kemampuan kecerdasan di atas rata-rata untuk dapat “menerobos” tembok PTN. Bila kemampuan akademiknya hanya rata-rata, niscaya akan tersingkir karena kesempatan untuk itu makin sedikit.

Sementara untuk jadi cerdas serta berkualitas, diperlukan di samping sarana dan prasana, juga gizi yang baik. Apa mungkin anak-anak kurang mampu secara finansial dewasa ini dapat memenuhi tuntutan gizi agar dapat menjadi cerdas? Sebab, biaya hidup kini sangatlah tinggi serta mahal.

Tak Mampu Bangkit

Kondisi ini membuat orang-orang miskin tak mampu bangkit dari kemiskinannya. Mereka akan terus menjadi miskin karena tidak memiliki keluasan ilmu pengetahuan, sebagaimana yang diperoleh kawan-kawannya di perguruan tinggi negeri. Untuk kuliah di swasta pun memerlukan dana yang tidak sedikit pula. Singkatnya, yang miskin makin terjepit.

Padahal sebagaimana ditegaskan dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagai tujuan nasional, semestinyalah negara kita melalui pemerintah berupaya mewujudkannya karena keseluruhan aktivitas pemerintah dan pembangunan negara gilirannya bermuara pada pencapaian tujuan nasional melalui aktualisasi seluruh potensi bangsa secara efisien dan efektif.

Begitu juga di dalam Batang Tubuh UUD 1945 (Pasal 31) ditegaskan, salah satu hak warga negara yakni mendapatkan pendidikan atau pengajaran. Sebagai hak, semestinyalah negara (melalui pemerintah) berupaya mewujudkannya.

Postingan populer dari blog ini

Nama Panggilan Untuk Pacar Unik Tapi Mesra

Sebuah Kisah Nyata Tentang Perjuangan CINTA