Visit Here!!!!!!!

Translate Here!!!!!!!!!!!!!!

Senin, 18 November 2013

Bagaimana Mencintai Pekerjaan?

mencintai sesuatu memerlukan dan serangkaian proses seperti halnya mencintai seorang pacar demikian juga dengan pekerjaan. Banyak faktor yang membuat kita mencintai pekerjaan. 

Pendidikan dalam memahami dan memaknai Pekerjaan.
Bekerja adalah sarana seseorang pekerja dalam meningkatkan dirinya disegala bidang. Dalam bekerja seseorang menggali dan digali potensinya, serta menggunakannya untuk bekal hidup sepanjang hayat.

Dalam memaknai bekerja sebagai suatu hal yang bermanfaat tidak lepas dari peran pendidikan dalam menempa mental dan pemahaman kita.

"Non Scholae sed Vitae Discimus" 
Patut kita cermati pepatah Latin di atas yang artinya kira-kira "Sekolah tidak semata mencari nilai tetapi untuk hidup" Begitulah semboyan salah satu sekolah di mana saya mengenyam pendidikan SMA dulu. Sangat luar biasa makna dari semboyan sekolah di atas. Hal ini memang sangat bertolak belakang dengan cara yang dilakukan kebanyakan orang dalam memaknai pendidikan dalam hubungannya dengan pekerjaan. Ada yang mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan dengan hasil yang fantastis. Ada juga yang berpendapat bahwa dengan mempunyai pendidikan tinggi nantinya bekerja di kantoran saja "belakang meja" dan menjadi pengatur saja. Ada yang mengenyam pendidikan untuk "popularitas" dengan mandapatkan titel saja supaya tidak mudah dipermainkan oleh orang pintar. Ada yang tidak dapat mengenyam pendidikan formal yang tinggi berpendapat yang penting mendapat pekerjaan. Begitu banyak persepsi dan motivasi yang dapat kita temui sehari-hari. Namun yang pasti apapun pendidikan, apapun keterampilan, apapun kompetensi kita, harus memberikan manfaat yang dirasakan oleh orang lain. Pekerjaan yang bermanfaat itu tidak dibedakan oleh seberapa besar usaha dan pekerjaan itu. Sikap mau belajar dan bekerja keras akan mendatangkan manfaat lebih kepada setiap pekerjaan yang kita geluti. Itikad kerja yang sejati adalah mau belajar untuk dirinya dan orang lain merasakan manfaatnya.


Berani Mencoba Pekerjaan dengan hasil yang baik.

Apapun tingkat pendidikan kita, tidak membuat pekerjaan itu mengalami penurunan kualitasnya asal kita siap mencoba dan melakukan hasil yang baik. Berani mencoba bukan berarti coba-coba dan bermain-main saja dalam mengerjakan sesuatu! Berani mencoba merupakan tahapan membangun komitmen dengan menguji kemampuan diri sendiri dengan melakukan prinsipdoing a great job is just nothing zero terhadap suatu tantangan pekerjaan.
Suatu ketika di tempat saya bekerja ada seorang pelamar yang melamar tugas dan tanggungjawab sebagai tenaga/petugas registrasi. Saat pertama diwawancara mengatakan komitmen dan siap belajar dalam proses menjalankan tugasnya diterima dan menjalankan orientasi. Setelah 2 bulan kemudian mengundurkan diri dengan alasan tidak mampu menyesuaikan diri, tidak bisa komputer, lingkungan tidak enak, pasien kadang marah-marah dan emosi dan lain sebagainya. 
Contoh di atas jelas mencerminkan seseorang yang kurang mempunyai komitmen dan tanggung jawab dalam pekerjaan. Sikap tidak tahan uji di atas secara tidak langsung mematahkan semangat keberhasilan dalam diri kita. Kita lebih memilih pekerja reaktif ketimbang aktif. Seorang pekerja aktif selalu siap sedia dalam segala tantangan pekerjaannya. Seseorang yang menganggap tugasnya bukan pekerjaannya bukanlah alasan dia tidak melakukannya dengan baik. Tujuan pekerjaan tetap harus tercapai baik bagi diri maupun costumer kita. Sebab akan pada waktunya dia dapat melepaskan pekerjaan itu dan/atau inisiatif pimpinan perusahaan mencari pengganti yang sesuai.


Humor.
Dalam melakukan pekerjaan suasana yang begitu menegangkan sangat menguras tenaga dan pikiran. Hal ini bisa membuat perasaan labil, tidak konsentrasi, dan akhirnya tidak produktif dalam bekerja. Waktu luang rileks dan humor dapat menjadi teman setia disela-sela kesibukan pekerjaan kita. Tentunya humor yang berlebihan sampai membuat suasana bekerja tidak harmonis dan waktu yang terbuang sia-sia tidak kita harapkan, tapi gurauan kecil yang tidak menyita kesibukan pekerjaan. Misalnya mengatakan teman sekerja penampilannya lebih beda sekarang, atau wah kayaknya ada yang semangat ni ada apa ya? Contoh humor-humor ini membuat kita tertawa sejenak dan lega merangsang pengeluaran pengeluaran si endorfin tubuh sehingga selalu membuat kita bersemangat dalam menjalankan setiap tugas kita.

Pengaturan Waktu yang Baik
"Time is Money". Slogan ini patut kita cermati dalam bekerja dan menata waktu kita. Waktu sekarang tidak akan pernah tergantikan oleh waktu yang lain. Tidak ada pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan dengan pengaturan waktu yang baik. Manajemen waktu yang baik ini sebagai cara kita memfokuskan diri pada suatu atau jenis pekerjaan pada saat dan kesempatan tertentu. Kita pernah ataupun sering melakukan pekerjaan yang banyak tanpa teratur dan fokus, sehingga kita merasa lelah dan terlalu banyak beban. Dalam kondisi seperti ini, kita mulai merasakan pekerjaan ini tidak lagi cocok bagi diri sendiri dan akhirnya tidak punya minat bekerja pada pekerjaan itu. Pekerjaan teratur dan terencana memberikan manfaat bagi kita baik secara fisik, secara mental, maupun keefektifan pekerjaan itu sendiri. Dalam kondisi kerja yang membabi buta tanpa pengaturan waktu dan prioritas pekerjaan dapat menurunkan kondisi fisik maupun mental kita. Oleh karena itu manajemen waktu yang tepat dan benar dapat memberikan ruang kita mengerjakan banyak hal secara teratur. Mengatur waktu bekerja bukan hanya untuk bekerja semata tetapi mengatur waktu istirahat sejenak merupakan bagian dari pengaturan waktu bekerja.

Memupuk Suasana Kekeluargaan dalam Pekerjaan. 
Lingkungan pekerjaan yang menyenangkan merupakan wadah memupuk rasa saling menghormati antara satu dengan yang lainnya sehingga tercipta rasa kekeluargaan dalam hidup bekerja. Suasana kekeluargaan diciptakan melalui suatu proses sosialisasi setiap pekerja bukan hanya diciptakan oleh pemimpin pada suatu tempat kerja. Sudah selayaknya kita memperlakukan teman sekerja sebagai saudara tanpa membedakan dari suku, agama, ras, dan golongan manapun sehingga tercipta hubungan harmonis, saling menghargai, menolong, hormat-menghormati. Dikala kita mengalami kesulitan dalam melaksanakan pekerjaan saudara atau teman sekerja merupakan mitra kita dalam membantu menyelesaikan masalah yang kita rasakan. Dalam suasana kekeluargaan ini penting pula dipupuk rasa saling percaya antar satu dengan yang lainnya karena saling percaya kunci membangun solusi sehingga segala persoalan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik.
Ciptakan Suasana Menyenangkan Dalam Pekerjaan.
Tempat bekerja ibarat rumah tempat tinggal kedua kita. Akan lebih serasi dan menyenangkan bila suatu ketika kita meletakan foto-foto orang yang kita cintai (anak atau isteri), foto orang yang menginspirasi Anda, selain itu hiasan bunga-bunga atau pernak-pernik di dinding, lukisan, suasana bersih yang tertata rapi. Tentunya tidak diperkenankan memajang hal-hal yang berbau ekstrem dalam lingkungan pekerjaan, seperti foto artis, gambar seram, gambar yang berbau pornografi, dan lain-lain. Kebebasan dalam menata lingkungan yang baik dalam rangka menjaga dan mempertahankan kenyaman dan profesionalitas pekerjaan.


"Positive Thinking"
Dalam menjalankan pekerjaan kita kerap kali merasa jenuh sehingga tidak jarang kita akhirnya banyak mengeluh bahkan menyalahkan sistem maupun orang lain yang menjadi penyebab ketidaknyamanan yang dirasakan. Dalam situasi ini kita perlu merefleksikan kembali apa yang menjadi tujuan pekerjaan kita. Bagaimana kita bersusah payah mendapatkan pekerjaan dengan banyak mengorbankan waktu, tenaga dan biaya. Bagaimana lewat pekerjaan ini akhirnya dapat sedikit/banyak membantu pemenuhan hidup sehari-hari. Bagaimana lewat pekerjaan itu kita dapat mengenal teman sekerja sebagai saudara baik dalam suka maupun dalam duka. Dan banyak hal positif lain yang dapat kita jadikan pemacu semangat kita lewat kesulitan yang kita rasakan. Yang perlu kita ingat semua bentuk kesuksesan dalam pekerjaan berawal dari kesulitan dan kejenuhan yang menjadi pembelajaran sehingga kesuksesan dapat kita raih sedikit demi sedikit.


Akhirnya mencintai pekerjaan kembali berpulang kepada diri kita masing-masing. Setiap orang mempunyai mekanisme yang berbeda-beda dalam proses mencintai pekerjaannya. Banyak sistem diciptakan mengurangi kejenuhan dalam bekerja, namun semua itu tidak sepenuhnya dapat memacu semangat bekerja. Akhirnya Kedewasaan berpikir menjadi kunci Kita dalam bagaimana kita mencintai pekerjaan Kita masing-masing.