Ini Dia Penulis Puisi di Film AADC2 :Aan Mansyur

Rasa saat membaca puisi-puisi dalam AADC 2 akan seperti mendapatkan surat dari orang yang dirindukan sekaligus dibenci.
Muvila.com – Sabtu sore, 25 April tahun lalu menjadi momen berkesan sekaligus mengagetkan bagi M. Aan Mansyur, penyair muda dari Makassar, Sulawesi Selatan. Sewaktu itu, ia tengah menghadiri pameran ilustrasi karya Emte alias Muhammad Taufik yang mengisi buku puisi terbarunya, Melihat Api Bekerja, di Edwin's Gallery, Kemang, Jakarta. Di situlah ia bertemu dengan Mira Lesmana, lalu ditawari membuat puisi-puisi untuk film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2). 
“Kami lagi mau bikin AADC 2 nih, dan kita butuh puisi. Kamu mau nggak?” tanya Mira saat itu kepada Aan, yang pernah masuk dalam daftar seniman muda penuh talenta bertajukThe Next Big Things in Indonesian Culture yang dibuat harian Jakarta Globe pada tahun lalu. Menurut Aan, saat itu Mira mengaku sering membaca puisi-puisinya, dan merasa Aan adalah orang yang tepat untuk menulis puisi-puisi dalam AADC 2
Ajakan produser dari rumah produksi Miles Films itu kemudian diartikan Aan sebagai kesempatan untuk berterima kasih kepada AADC. Sebab, menurut Aan, film AADCmemiliki sumbangsih dan peran yang besar dalam membuat wajah puisi Indonesia sekarang. Ini akibat meledaknya AADC sejak beredar di bioskop-bioskop Indonesia pada Februari 2002 hingga ditonton oleh 2,5 juta orang. 
"Kita nggak membayangkan anak-anak muda bawa-bawa buku puisi, baca puisi. Terlibat di sini (AADC 2) sekarang artinya membuat saya sebagai orang yang menulis puisi bisa lebih percaya diri,” ujar Aan dalam rilis pers yang diterima Muvila
Rasa kaget Aan yang muncul saat ditawari kerja kolaborasi oleh Mira Lesmana juga ada alasannya. Secara personal, film AADC menancapkan memori cukup membekas pada dirinya. Ia ingat pertama kali menonton film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra itu ketika masih kuliah, dan memang sudah berkeinginan untuk menjadi penyair. 
"Setahun sebelumnya, saya 'nembak' cewek dengan puisi. Dan saya nonton beberapa kali dengan pacar saya waktu itu. Saya sangat yakin mantan pacar saya kalau sekarang dia nonton AADC 2, dia akan ingat banyak sekali hal. Mungkin saya termasuk salah satu orang yang paling sering nonton AADC," ujar pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan pada 14 Januari 1982 ini. 
Aan menilai bahwa film AADC berhasil memotret sebuah era di Indonesia saat itu. "Kita tidak menemukan banyak di budaya pop Indonesia bagaimana film berhasil memotret budaya pop pada satu era. Itu menurutku yang berhasil dilakukan AADC,” lanjutnya.
Maka, di tempat kolaborasi antara puisi dan ilustrasi sedang dirayakan pada Sabtu sore tahun lalu itu, lahirlah pula benih kolaborasi antara puisi dan film untuk AADC 2 kelak. Ajakan Mira itu juga membuat Aan merasa tertantang. Lagi pula, ia memang senang mengerjakan hal-hal yang sifatnya kolaboratif. Pengerjaan puisi-puisi untuk film AADC 2pun dimulai dan prosesnya cukup panjang.
Aan banyak melakukan riset. Dia menonton film AADC berulang-ulang. Karena belum pernah menyambangi New York, ia pun membaca buku-buku tentang kota tersebut, termasuk buku yang menuturkan tentang pengalaman hidup para pendatang di sana. Sebab, Aan perlu mengetahui bagaimana rasanya rindu pada Tanah Air atau orang-orang yang dicintai di negara asalnya. Ia juga mengikuti sejumlah akun Instagram yang memotret kota New York supaya bisa lihat warna-warni kota tersebut.
"Selama sekitar tiga bulan menulis puisi-puisi ini, saya seperti harus meletakkan kepalaku dan memasang kepala Rangga untuk melihat cara berpikir Rangga. Puisi-puisi Rangga di film ini lahir dari cara berpikir Rangga, dan juga persoalan-persoalan yang dihadapi Rangga. Rangga begitu percaya dengan yang disebut sebagai kekuatan kata-kata dan kekuatan bahasa,” beber penulis novel Perempuan, Rumah Kenangan (2007) dan Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi (2015) ini.
Seperti halnya Rangga, Aan pun berharap bahwa dengan keterlibatan puisi ke dalam film, orang-orang menjadi percaya lagi pada kata-kata dan bahasa, serta lebih berpikir sebelum membicarakan sesuatu. Ia juga ingin agar orang-orang mempercayai kekuatan bahasa tak hanya sebagai alat komunikasi atau sebagai bahasa yang kerap dikuasai oleh tema-tema ekonomi dan politik.
"Orang semakin susah percaya bahwa ada kekuatan lain. Kekuatan imajinasi. Bahasa itu semesta yang besar sekali. Kalau kamu jernih berbahasa sebetulnya cara berpikirmu menjadi lebih bagus. Saya ingin puisi-puisi di AADC 2 ini menjangkau lebih jauh dari apa yang sudah diraih AADC yang pertama," ungkap Aan.
Tak hanya itu, ia juga membayangkan puisi-puisi karangannya untuk AADC 2 bisa menimbulkan paradoks. "Saya membayangkan orang-orang yang membaca puisi ini adalah orang-orang yang dekat tapi jauh sekali. Penuh paradoks-paradoks seperti itu si puisi ini. Bahwa yang dekat menjadi jauh, yang jauh menjadi terasa dekat. Seperti mendapatkan surat dari orang yang begitu kita rindukan sekaligus kita benci,” katanya. 
Di penghujung Oktober lalu, akhirnya Aan Mansyur merampungkan penulisan 31 judul puisi tentang kisah cinta antara Rangga dan Cinta untuk film AADC 2. Rencananya, puisi-puisi tersebut akan diterbitkan dalam buku Tidak Ada New York Hari Ini, sehingga akan menambah panjang daftar buku puisi karya Aan, yakni Hujan Rintih-Rintih (2005), Aku Hendak Pindah Rumah (2008), Cinta yang Marah (2009), Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini? (2012), dan Melihat Api Bekerja (2015). 
Penggalan dari salah satu puisi Aan untuk film Ada Apa Dengan Cinta? 2 sudah kita dengar lewat teaser trailer film tersebut yang dirilis beberapa waktu lalu.
resah di dadamu,
dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini.
dipisah kata-kata
begitu pula rindu.
lihat tanda tanya itu.
jurang antara kebodohan dan keinginanku 
memilikimu sekali lagi

Foto header: Aan Mansyur
Foto artikel: Instagram Aan Mansyur

Postingan populer dari blog ini

Nama Panggilan Untuk Pacar Unik Tapi Mesra

Sebuah Kisah Nyata Tentang Perjuangan CINTA